
Seorang anak mendapati ibunya sedang sibuk di dapur. Kemudian menuliskan sesuatu di selembar kertas. Sang ibu menerima kertas tersebut dan membacanya.
Daftar upah membantu ibu
- Membantu ke warung = Rp 20.000;
- Menjaga adik = Rp 20.000;
- Membuang sampah = Rp 5.000;
- Membersihkan tempat tidur = Rp 10.000;
- Menyiram tanaman = Rp 15.000;
- Menyapu = Rp 15.000;
Jumlah = Rp 85.000;
Selesai membaca, sang ibu tersenyum. Ia pun mengambil pena dan menuliskan sesuatu di belakang kertas yang sama.
- Mengandungmu sembilan bulan = GRATIS
- Menjagamu tiap malam = GRATIS
- Airmata yang menetes karenamu = GRATIS
- Khawatir memikirkanmu = GRATIS
- Menyediakan makan, minum, pakaian, dan perlengkapanmu = GRATIS
Jumlah keseluruhan kasih Ibu = GRATIS
Airmata si anak berlinang setelah membaca tulisan itu. Ia pun memeluk ibunya dan berkata “Aku sayang ibu”. Kemudian ia mengambil pena dan menulis di kertas yang tadi ditulisnya: LUNAS.
Bukanlah hal yang luar biasa jika saya berani menuliskan hal semacam ini. Tapi, sungguh saya hanya turut prihatin dengan fenomena-fenomena semacam ini. Tidak hanya di kost, di kampus pun saya kerap melihat jilbaber-jilbaber melangkah riang bersama seorang lelaki di sampingnya. Ini mungkin penghinaan bagi jilbaber yang lain, yang sama sekali tidak tersentuh kiblatan salah gaul seperti itu. Dan…saya hanya ingin ikut dalam barisan jilbaber-jilbaber yang teguh hatinya untuk tak menodai kesucian hijab itu.
Saya merasa punya nyali lagi ketika sebuah buku tentang pernikahan dini memaksa saya untuk membacanya…
“Kamu tahu kan posisiku? Sebagai seorang wanita yang berjilbab, aku tidak boleh mencemarkan lambing kesucian yang kupakai setiap saat ini dengan meneruskan hubungan kita. Apa kata orang nanti? Ngakunya akhwat kok pacaran?”
(Salut banget buat mbak Seli dan mas Haekal Siregar. FLP lovers pasti tau banget dialog di atas…)
Betul! Betul sekali! Sudah bagus-bagus aurat ditutup, orang tentu akan merasa segan dengan seorang wanita yang berjilbab. Mereka nggak akan sembarangan ngomong dan bertingkah. Tapi, sayangnya citra ini tampaknya memudar. Seorang yang menutup rapat auratnya tentulah juga mesti menjaga pergaulannya. Namun, halo…dunia… Jilbaber-jilbaber aspal masih bebas bergentayangan menyelubungi dunia gemerlap, pacaran, narkoba, free sex, MBA…
Lantas, sekadar buat apa mereka rela panas-panas memakai jilbab setiap hari…???
Sangat perlu di sadari, banyak jilbaber-jilbaber yang belum tersentuh oleh kata-kata “HIJAB”. Physsicly, okelah… Tapi yang lain, hhmmm…belum tentu…
Pernah saya merasa sangat ilfil dengan seorang teman. Setiap hari, sepotong gamis senantiasa membalut lekuk tubuhnya, jilbab panjangnya membuat saya latah pingin nyaingin dia, tajwidnya Subhanallah lancer, anaknya supel dan sangat menjaga pergaulan dari teman laki-laki yang lain. Buat saya, she’s a star. Suatu hari ketika di jalan, saya bertemu dengannya dan inilah titik temu keilfilan saya terhadapnya. Dia dibonceng oleh seorang laki-laki dewasa. Saat itu saya masih berbaik sangka mengira laki-laki itu adalah kakaknya. Namun, manakala dia berkumpul dengan jilbaber lain (kali ini jilbaber aspal), membicarakan tentang pacarnya masing-masing, eh si jilbaber yang dulu saya anggap star ikut-ikutan ngobrol soal…pacarnya? (yang saat itu dia sebut abang). Dan belakangan saya ketahui bahwa si “abang” ternyata tempo hari memboncengnya.
Apalah dunia ini…Saya merasa sendirian lagi di dunia…
Belum lagi, seorang teman di fakultas kedokteran pernah mengeluhkan tentang jilbaber-jilbaber centil di kelasnya. Sungguh, saya sangat miris mengingatnya.
Mungkin munafik jika saya ngomong besar di sini, sebab meski saya pun seorang jilbaber, kadang ada saja penglihatan ini tak terjaga, lisan ini tak terjaga, telinga ini juga ikut tak terjaga. Tapi, sungguh, saya ingin berada di barisan jilbaber-jilbaber yang teguh hatinya untuk tak mencoreng hijab ini…
Maka, saya pun berharap kepada segenap jilbaber yang saya kenal maupun yang tidak terkenal (loh?) untuk menyegerakan diri mendalami makna “HIJAB”.
Malam rupanya makin larut. Tapi, suara-suara berbeda nada itu masih juga terdengar di luar. Aku menepuk jidatku. Pak penjaga sedang tak di rumah. Dan aku tahu, hati kecilku menyindir, jilbaber kok begitu? Sindiran yang terdengar serupa buatku tatkala beberapa kali aku lalai menundukkan pandangan pada yang tak halal bagiku. Namun, sungguh beruntung aku tidak seperti dia, jilbaber yang kuintip itu. Hhh…Saya kira kita sama…
HallloooOOOooo...Minat Menulis saya takkan luntuuuurrr...
Wuuaahh...
Wuuaaahhh...Hhhaa...Hhhaaa...
Hhaa...Hatchiyyy...!!!
Duh...Duh... Lama sekaaleee...tidak bersuaaa...
Kaaangggeeennnn....
Riiiinndduuu....
Abis gimana...Gw sibuk mulu...
Tapi...Gw janji...Gw segera kembali...dengan cerita-cerita yang (InsyaALLAH)...seruuu...
Plisss...Tungguin gw...ya...ya...ya...
Eh,eh, jangan lupa komennya duUUuuunkzzz...
<,,> O`reen,
di bagian Kaltim yang lain aku masih rindu...
Pada suatu hari, Abu Muslim sampai ke rumahnya. Istrinya sudah menyambutnya di depan pintu.
Dengan wajah sedih, istrinya berkata,”Tidak ada kayu di rumah kita yang bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh dari musim dingin yang menggigit ini.”
Abu Muslim menjawab dengan hati pilu,”Di dalam sakuku tidak ada uang dinar atau dirham untuk membeli kebutuhan kita!”
Istrinya menyahut,”Bagaimana bisa kau mengeluh fakir dan tidak punya apa-apa, padahal engkau adalah orang yang paling dekat dan dihormati khalifah? Pergilah ke sana dan jelaskanlah kepadanya keadaan kita, bahwa kita sangat kekurangan, fakir, dan perlu bantuannya segera. Aku yakin, khalifah pasti membantu dan tidak akan membiarkan kita hidup fakir.”
Abu Muslim menjawab,”Na’udzubillah, aku berlindung kepada Allah kalau sampai aku melakukan hal itu. Aku sangat malu kepada Allah. Kalau sampai minta bantuan kepada makhluk ciptaan Allah, padahal Allah Maha Pemurah. Aku tidak mungkin meminta bantuan kepada selain Allah.”
Lalu Abu Muslim keluar dari rumahnya dan pergi ke masjid. Setibanya di masjid, dia langsung shalat dua raka’at.
Setelah itu, dia berdzikir, beristighfar, dan berdoa,”Ya Allah, ya Rabbi, wahai Tuhan yang Maha Mengetahui rahasia, Engkau Mahatahu bahwa aku malu jika meminta pertolongan selain kepada-Mu. Wahai Tuhan yang luas kemurahannya, karuniakanlah padaku gandum, terigu, adas, minyak, dan kayu bakar. Karuniakan pada istriku, pakaian dan kerudung, dan karuniakan pada anakku pakaian dan sapi untuk diminum susunya. Ya Allah, kabulkanlah doaku. Amin.”
Kebetulan. Saat itu, di dalam masjid ada seorang lelaki yang termasuk salah satu pengawal istana khalifah. Pengawal itu merasa aneh mendengar doa itu, cepat-cepat dia bergegas keluar masjid dan langsung menuju istana. Dia ingin menemui khalifah untuk menceritakan apa yang didengarnya di dalam masjid.
Begitu sampai di hadapan khalifah, dia berkata,”Aku melihat sekarang ini ada seorang lelaki di masjid yang berdoa pada Tuhannya dan meminta hal-hal yang aneh.”
Lalu, dia menyebutkan hal-hal yang diminta oleh lelaki-yang tak lain adalah Abu Muslim-itu kepada khalifah.
Ketika mendengar hal-hal yang diminta itu, khalifah tertawa dan berkata,”Aku yakin, aku tahu siapa lelaki yang berdoa di dalam masjid itu. Aku yakin dia adalah Abu Muslim. Dia seorang lelaki yang sangat malu kepada Allah. Sekarang, coba kau ulangi lagi isi doanya. Aku ingin mengirim barang-barang yang dimintanya itu ke rumahnya secepatnya sebelum dia keluar dari masjid. Setiap satu barang yang ia minta, kirim dua.”
Sementara itu, Abu Muslim tetap berada di dalam masjid beberapa saat lamanya untuk membaca Al-Quran dan berdoa kepada Tuhannya. Setelah dirasa cukup lama, dia keluar dari masjid dan pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, ia disambut istrinya dengan panuh rasa gembira. Sang istri menyambutnya dengan penuh kehangatan.
Istrinya berkata,”Coba renungkan Abu Muslim, sekarang kita tidak kekurangan lagi. Ini tak lain karena kau mau mendengar nasihatku. Akhirnya, kau pergi juga ke tempat khalifah.”
Abu Muslim terkejut dengan ucapan istrinya. Dia bersumpah bahwa dia tidak pergi menemui khalifah. Bahkan, dia tidak berjumpa dengannya selama satu minggu.
Istrinya lalu bertanya,”Kalau begitu, ceritakan kepadaku, kemana kau pergi? Kepada siapa kau mengadu?”
Abu Muslim menjawab,”Aku pergi ke masjid dan mengadukan keadaan kita kepada Allah swt. Sebagaimana kau ketahui selama ini, hai Ummu Muslim, aku sangat malu kepada Allah kalau sampai Dia melihat aku minta tolong kepada selain Dia.”
Seketika itu, istrinya meneteskan air mata, terharu. Dia bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada suaminya.
Dia berkata,”Alangkah mulianya jiwamu! Alangkah indahnya pembuatanmu, Suamiku! Alangkah pengasihnya Allah yang tidak pernah melupakan hamba-Nya!”
Dikutip dari kumpulan kisah teladan, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy
Kita semua pasti udah tahu dari berita bahwa ada sekelompok anak perempuan yang melakukan aksi pengeroyokan pada sejumlah anak perempuan juga. Mereka ini menamakan diri mereka genk Nero (Neko-Neko Dikeroyok). Mereka biasa melakukan pengeroyokan pada beberapa remaja wanita apabila para remaja wanita tersebut mengikuti gaya berpakaian mereka atau ketika ada remaja wanita yang berniat menjadi anggota genk Nero ini.
Dari sebuah video yang direkam melalui handphone, terlihat dua orang anggota genk Nero memploncoi habis salah seorang remaja perempuan yang ingin ber
gabung dalam genk. Remaja berbaju merah tersebut terlihat pasrah dengan segala perlakuan anggota genk yang tidak ampun memberinya tamparan, pukulan, makian, bahkan mendorong kepalanya. Video lain pun menunjukkan “aktivitas” sebuah genk motor perempuan ketika mereka bersama-sama mengeroyok seorang remaja wanita di sebuah jalan sepi. Benar-benar brutal! Tak kalah brutal dengan apa yang terjadi pada peristiwa Monas beberapa waktu lalu.
Saya benar-benar ngeri melihat perlakukan anak-anak perempuan tersebut. Seperti bangsa primitif cara mereka “bergaul”. Padahal usia mereka masih belasan, mereka masih SMA, tapi mereka telah mencoreng harga diri sekolah mereka dengan tindakan bodoh seperti itu. Dan yang lebih penting lagi, mereka juga telah menodai harkat dan martabat mereka sebagai seorang WANITA!
Terus terang saja, di sekolah saya p
un masih banyak genk-genk seperti mereka, namun apa yang mereka (Genk Nero) lakukan sepertinya baru kali ini saya lihat.
Saya pun mempunyai beberapa teman dekat dimana kami pun juga punya nama genk-genk an. Tapi, kami tak pernah menyakiti sesama teman dan juga antargenk. We’re living peace. Anggaplah itu Cuma sekedar seru-seruan, it’s only a name. Prinsip dan pandangan kami bahkan beda, tapi kami tak pernah terlalu ekstrem memandang bahwa dalam suatu genk harus punya pikiran dan prinsip yang sama. Intinya, keragaman tercipta dalam suatu kelompok. Kalau bagi para perempuan binal seperti mereka, Nero artinya Neko-Neko Dikeroyok, tapi bagi saya Nero itu Neko-Neko, Ora Opo-Opo (sing penting, peace y’all!!!).
Ah...aksi brutal itu terus membayangi pikiran saya, bagaimana seandainya di kota kecil tempat saya tinggal ada juga yang seperti itu? Bagaimana kalau saya jadi target pengeroyokan mereka? Uh... Waktu dulu ikut latihan PBB saja saya sudah menyerah, gimana dengan yang seperti Genk Nero lakukan itu? Saya juga heran, emang terbuat dari apa sih hati para perempuan Nero itu sampai-sampai tega melakukan tindakan seperti itu? Mengeroyok! Apakah mereka merasa diri merekalah the most perfect? Kalau diibaratkan wanita di zaman Rasulullah dulu, mereka itu seperti Hindun, wanita paling kejam dalam peperangan karena doi udah ngebunuh pamannya Nabi SAW, Hamzah yang pemberani, trus merobek dadanya serta memakan jantung Sang Singa padang pasir itu. Kayaknya mereka juga mau nyaingin para “jagoan” STPDN deh atau juga penindasan bangsa Israel terhadap Palestina. Woi!!! Malu tuh sama Ibu Kartini...MALU...!!! Udah susah-susah dikasih emansipasi, justru diselewengkan! Payah...! Payah Parah...! Heh, Genk Nero, bayangin aja deh kalo kalian yang diperlakukan seperti itu!
Yang pasti, Alhamdulillah mereka udah diserahkan pada yang berwajib dan semoga mereka bisa menyadari kekhilafannya selama ini. Tapi, saya percaya, masih banyak “genk Nero” lain yang mungkin bakal lebih sadis lagi. Hhh... Saya sih Cuma mau saran, bikin genk-genk an sih sah-sah aja, asalkan kegiatannya positif, oke-oke aja lagi! Tapi uda
h gak zaman deh kalau seandainya ada orang yang salah sama satu anggota trus main keroyokan begitu. Gak zaman...! Primitif...! Apalagi buat para genk cewek, kenapa sih harus pake otot, bukan pake hati nurani? Bukankah wanita diciptakan dengan kepekaan perasaannya? Be a good woman, girls! Liat deh lebih luas, mungkin diseberang sana, ada seorang wanita
yang kehilangan keluarga akibat ulah para zionis Israel, ada seorang ibu yang sedih meratapi nasibnya gara-gara gempa di China, ada TKW yang mati-matian bekerja lalu disiksa majikannya pula, ada remaja wanita yang rela ngebotakin kepalanya demi protes pada pemerintah Perancis yang membuat peraturan bahwa gak ada yang boleh pake jilbab di negara itu. Sekali lagi deh buat Genk Nero atau genk perempuan apapun deh, siapa sich lo? Lo ‘kan Cuma seorang perempuan yang juga lahir dari perempuan biasa? Lo belum tentu ngerasain penderitaan para wanita seperti yang tadi saya sebutkan ‘kan?
Oke, selamat menyebarkan kedamaian atas nama genk kamu...








